Senin, 10 Juni 2013

tugas



Krisis Ekonomi Global
           
Pertanyaan:
Sampai di mana krisis ekonomi yang bermula di Amerika lalu melanda Eropa kemudian dunia?
Jawab:
Untuk meneropong masalah ini kami sebutkan hal-hal berikut:
  1. Keruntuhan pasar properti di Amerika Serikat meluas ke seluruh penjuru dunia dan menyebabkan runtuhnya sejumlah bank. Hal itu menghasilkan intervensi pemerintahan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghentikan keruntuhan ekonomi global. Akan tetapi akibatnya terjadilah apa yang sekarang disebut resesi besar (Great Recession) dan itu adalah yang terburuk sejak depresi besar (Great Depression) tahun 1929. Krisis finansial global ini mencuatkan kenyataan bahwa booming ekonomi pada dekade lalu pada faktanya merupakan hasil dari utang. Hingga sekarang perekonomian terbesar di dunia terus mengalami kegagalan dalam mengatasi krisis yang sudah berjalan selama lima tahun itu.
  2. Usaha bersama dari perekonomian terbesar di dunia untuk mengkoordinasikan penyelesaian krisis terus dilakukan. Asas terjadinya koordinasi ini adalah karena ekonomi global telah terkait satu dengan yang lain sebagai efek dari globalisasi. Karenanya, pendekatan bersama dan global akan menjadi kepentingan global yang terbaik. Akan tetapi, pendekatan bersama-sama yang menyatu ini tidak berlangsung panjang disebabkan menyebarnya nasioalisme ekonomi, di mana setiap negara berjuang sendiri untuk mempertahankan eksistensi. Sebab setiap negeri mengharap negara lain bisa mendanai cadangan global. Hal itu tampak dalam berbagai pertemuan dan konferensi negara-negara G-20 yang menyetujui berbagai tipe bail out untuk membantu negara yang perekonomiannya ambruk. Hal itu mengakibatkan sebagian besar proyek bail out ternyata tidak lebih dari dokumen tertulis saja, disebabkan adanya konsep nasionalisme ekonomi negara-negara besar. The Economist pada tahun 2010 menggarisbawahi: “But the re-emergence of a spectre from the darkest period of modern history requires a different response, even serious. Economic nationalism that strives to save jobs and capital at home turned the economic crisis into a political one and threatened the world with depression. If it is not buried again forthwith, the consequences will be dire (akan tetapi munculnya kembali hantu dari masa paling gelap dalam sejarah modern membutuhkan respon yang berbeda bahkan yang serius. Nasionalisme ekonomi yang bekerja keras untuk menjaga kesempatan kerja dan modal di dalam (dalam negeri setiap negara) telah menyebabkan berubahnya krisis ekonomi menjadi krisis politik dan mengancam dunia dengan depresi. Jika nasionalisme ekonomi tidak dikubur segera maka berbagai konsekuensinya akan menyusahkan.”
  3. Perdebatan sengit terjadi antara Jerman dan Amerika tentang jalan terbaik untuk masa depan ekonomi global. Angela Merkel beserta mayoritas negara-negara lainnya berpandangan bahwa model pertumbuhan yang tidak berkelanjutan yang digunakan oleh Amerika Serikat, yaitu pertumbuhan yang dihidupkan oleh kredit dan utang murah, sesuai pendanan pemerintah dengan menggunakan dana sebagai stimulus pertumbuhan, model pertumbuhan seperti itu sudah usang. Adapun pendekatan Eropa tercermin dalam perlunya kontrol pada tingkat defisit nasional pada setiap negara melalui langkah-langkah pengetatan ikat pinggang atau penghematan. Kebijakan penghematan itu biasanya diambil jika ada ancaman bahwa pemerintah tidak bisa membayar utang-utangnya. Ini adalah tujuan yang sangat spesifik dan berbeda dengan pertumbuhan ekonomi. Adanya ancaman terhadap rating kredit hampir semua perekonomian terbesar dunia, membuat banyak dari negara itu mengambil kebijakan penghematan, yaitu menurunkan tingkat defisit untuk menyenangkan pasar finansial. Masalah dalam pendekatan penghematan adalah bahwa kebijakan semisal ini pada faktanya tidak ditujukan untuk menciptakan pertumbuhan yang akan bisa menciptakan kesempatan kerja dan pemasukan di masyarakat yang akan mengantarkan pada pertumbuhan ekonomi secara umum. Akan tetapi kebijakan penghematan bertujuan menurunkan utang pemerintah.
  4. Pendekatan Amerika Serikat dengan stimulus pertumbuhan tidak merealisasi hasil-hasil yang lebih baik. Stimulus pertumbuhan mengharuskan peningkatan belanja pemerintah dengan memanfaatkan dana yang pertama-tama diutang dari luar negeri (seperti Cina) seperti yang terjadi di Amerika Serikat; atau dana yang diciptakan oleh Bank Sentral dengan memasukkan angka ke dalam komputer. Semua stimulus itu selalu menjadi pemacu dan merupakan kebijakan temporer. Kebijakan itu didesain untuk menghidupkan kembali perekonomian yang macet. Akan tetapi bukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pertumbuhan yang dicapai pada faktanya merupakan hasil yang inflatif dari kebijakan stimulus yang memberikan efek bersifat temporer. Karenanya, stimulus adalah semata untuk mendukung tugas pemerintah dan industri jasa menciptakan kesempatan kerja yang akan mati ketika stimulus itu berakhir dengan mewariskan ekonomi di kebanyakan negara seperti kondisi awal pada saat kebijakan stimulus itu dimulai.
  5. Pemerintahan Barat juga menggunakan Quantitaive Easing (QE), sebuah perkembangan baru yang menggunakan metode elektronik untuk mencetak uang. Kebijakan tidak konvensional ini digunakan oleh Bank Sentral (Pemerintah) untuk menstimulus perekonomian nasional ketika kebijakan konvensional mengalami kegagalan. Berdasarkan metode itu, Bank Sentral mulai mengimplementasikan apa yang disebut Quantitaive Easing (QE) dengan jalan membeli aset finansial (Financial Assets) seperti surat utang dan saham … untuk menginjeksikan uang dalam jumlah yang telah ditentukan sebelumnya ke dalam perekonomian. Hal itu dilakukan dengan jalan pemerintah membeli aset-aset finansial (Financial Assets) dari bank menggunakan uang baru yang dicetak secara elektronik. Yaitu dengan jalan Pemerintah membayar harga aset-aset finansial itu kepada bank secara elektronik bukan secara hakiki (riil) sehingga langkah itu meningkatkan cadangan bank. Meski semua itu telah dilakukan, perekonomian global pada awal tahun 2013 tidak lebih baik dari kondisi perekonomian pada awal tahun 2012. Bahkan resesi besar (great recession) telah menelan beberapa negara yang berusaha menghindarkan diri dari resesi. Laporan yang muncul pada awal tahun 2013 menyatakan kuatnya kemungkinan masuknya Inggris ke dalam resesi ekonomi yang berlipat ganda, seperti negara-negara Eropa lainnya, dikarenakan beban utangnya yang telah mencapai batas triliunan dolar. Begitulah Quantitaive Easing (QE) pada faktanya tidak memberikan hasil yang efektif. Bahkan setelah lima tahun berjalan, perekonomian global masih terus dilanda krisis ekonomi. Dan khususnya karena pengangguran terus meningkat secara konstan, maka kekacauan sosial telah mulai terjadi di Eropa. Semua upaya untuk mengatasi krisis tidak menyelesaikan masalah pertumbuhan yang ditopang oleh utang. Pada saat dimana utang merupakan sebab permasalahan yang terjadi, upaya untuk mengatasi krisis justru meningkatkan jumlah utang. Begitulah, pemerintahan-pemerintahan barat mengatasi penyakit dengan penyakit yang sama.
  6. Dan akhirnya, ada tiga kemungkinan yang pada akhirnya mengantarkan pada recoveri ekonomi. Kami sebutkan dari yang terendah kemungkinannya hingga yang tertinggi:
Pertama, resesi yang ada berubah menjadi depresi dan jatuhnya harga-harga. Hal itu menyebabkan jatuhnya harga utang, property dan komoditi yang bisa menjadi starter mulainya pertumbuhan ekonomi yang tercermin dalam mudahnya membayar utang-utang itu. Kemungkinan ini lemah, sebab perekonomian kapitalisme tegak berdasarkan utang dan riba yang muncul dari utang itu. Jatuhnya harga utang “riba” tidak akan berlangsung panjang selama ekonomi kapitalis berdiri.
Kemungkinan kedua, Cina menyelamatkan (mem-bail out) Barat. Perdagangan Cina sangat besar. Dan surplus finansialnya terkait dengan utang Amerika Serikat, Inggris dan berbagai sektor zona Uero. Dan itu merupakan utang yang tidak berkelanjutan. Maka menyelamatkan Barat akan menjadi kepentingan Cina. Ini berarti bahwa dunia Barat dipaksa untuk menerima kepemimpinan global Cina. Akan tetapi masalahnya di sini bukan pada apakah barat mau menerima bail out semacam itu, namun masalahnya adalah akankah Cina mengambil kebijakan seperti itu.
Kemungkinan ketiga, matahari daulah al-Khilafah bersinar dan sistem ekonomi Islam diterapkan. Maka yang merasakan manfaatnya bukan hanya daulah al-Khilafah saja, akan tetapi juga negara-negara yang berinteraksi dengan daulah al-Khilafah. Hal itu membuat krisis-krisis global semacam ini menjadi tidak ada atau berada pada kondisi yang bisa dikontrol.

Dampak Krisis Ekonomi Global

Dampak Krisis Perekonomian Global Indonesia

krisis-ekonomi-global

Mengatasi Penyebab dan Dampak Krisis Ekonomi Global masih menjadi berita hangat tanpa melewati 1 (satu) hari pun dalam bulan-bulan terakhir ini. Berbicara krisis ekonomi adalah bukan berbicara tentang nasib 1 (satu) orang bahkan lebih dari itu semua karena ini menyangkut nasib sebuah bangsa. Berbagai argument dan komentar pun dilontarkan di berbagai media yang selalu memojokkan pemerintahan Yudhoyono dan BI (Bank Indonesia) Di salah satu media menyatakan bahwa Presiden Yudhoyono menyampaikan 10 langkah untuk menghadapi masalah tersebut. Empat di antaranya:
1. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri
2. Memanfaatkan peluang perdagangan internasional
3. Menyatukan langkah strategis Pemerintah dengan Bank Indonesia (BI)
4. Menghindari politik non partisan untuk menghadapi krisis.
Kedengarannya memang masuk akal tapi untuk menghadapi krisis itu bukanlah semata adalah tugas pemerintah dan Bank Indonesia tapi badai krisis ini perlu dihadapi bersama jangan sampai kejadian Krisis Ekonomi Global Part II ini lebih dahsyat meluluh-lantakkan Perekonomian Indonesia seperti yang telah terladi pada Badai Krisis Moneter Part I di Era Soeharto.
Sadar atau pun tidak sadar Akibat Krisis Ekonomi Global kali in sudah sangat jauh merambah dalam berbagai strata masyarakat. Dimana-mana pengangguran semakin bertambah Income perkapita drastis menurun karena beberapa industri mulai merampingkan tenaga-kerja atau mulai meliburkan tenaga kerja tanpa batas waktu. Senada dengan hal itu investor-investor lokal dan Asing pun mulai  menarik saham dalam industri-industri di Indonesia. Dari kejadian kejadian itu akan menjadikan peluang untuk Angka Kriminalitas akan melonjak naik Grafiknya di tanah air belum lagi kasus-kasus korupsi terbaikan karena bangsa ini telah disibukkan dengan masalah yang lebih di prioritaskan sehingga dengan bebasnya para koruptor meneruskan aksinya ditiap jenjang. “Selamat buat para koruptor Anda bisa keluar dari persembunyain untuk sementara Waktu. How pity a Country !”
Memang sangat Ironis di satu sisi Indonesia yang dikenal sebagai negara Agraris tapi disisi lain beberapa item bahan pokok masih mengandalkan hasil import dari negara tetangga. Yah ini mungkin salah satu kelemahan dari bangsa kita bahkan diri kita yang sebagai rakyat yang kurang berusaha secara profesional dalam mengelola asset-asset yang ada dalam lahan-lahan indonesia. Lihat saja kekayaan Alam Indonesia mulai dari hasil laut belum dapat dikelola dengan baik karena Fasilitas-fasilitas nelayan kurang memadai sehingga negara-negara lain meraup keuntungan dari hasil menangkap hasil laut dengan cara yang tidak fair. Belum lagi persediaan minyak yang semakin lama semakin menipis serta Tambang-tambang Emas yang masih dikuasai negara asing. Jadi sangat disayangkan Punya Harta yang sangat berlimpah ruah tapi tidak dapat dinikmati secara maksimal oleh bangsa ini.
Jadi memanglah pas ketika Ketua Presidium Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI ) menyatakan bahwa Krisis ekonomi global telah terjebak pada sistem kapitalisme internasional sehingga sampai saat ini sepertinya tak ada persiapan jelas menghadapi krisis keuangan global yang berawal dari runtuhnya industri keuangan di Amerika Serikat. Mereka yang krisis kita yang ”hancur-hancuran” seperti pada bursa saham sehingga menghentikan operasionalnya.
Dan kesimpulannya Indonesia belum siap menghadapi Dampak Krisis Ekonomi Global yang di motori oleh Negara Super itu. Mungkin dari beberapa uraian diatas dapat memberi gambaran bahwa kita punya potensi menghadapi krisis ini jika kita meningkatkan kesadaran sebagai masyarakat indonesia termasuk element pemerintah berikut departement terkait untuk meningkat pengelolaan sumber daya secara profesional sehingga bangsa ini menjadi produktif dalam penyediaan hasil bumi dan dapat mandiri serta terbebas sebagai negara importir bahan pangan dan minyak bumi terbesar yang akan membalikkan keadaan menjadi negara “Pengekspor Terbesar”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar